Angkutan Kargo SkyWay

Angkutan Kargo SkyWay

Keuntungan daya saing kompleks angkutan kargo SkyWay untuk angkutan massa batuan

Biaya angkutan adalah salah satu unsur terpenting dari biaya total penggalian dan pengolahan mineral komersial. Ini membuktikan diperlukannya pembenaran terhadap penggunaan kompleks angkutan yang paling efektif. Namun, analisis lengkap dan menyeluruh mengenai kompleks angkutan yang optimal
tersebut seringkali tidak dilakukan. Preferensi terhadap satu atau model angkutan lain ditentukan terutama oleh pendapat yang subyektif. Saat ini perusahaan tambang menerapkan terutama sistem angkutan teknologi bersaing berikut: kereta api, kabel gantung, konveyor, dan angkutan jalan raya.
Faktor utama yang paling berpengaruh terhadap pemilihan kompleks angkutan untuk usaha pertambangan adalah:
  • Medan dan ciri spesifik lainnya di wilayah konstruksi (aspek ekologi, pembangunan perumahan, ketersediaan badan air alami dan buatan, dll);
  • jarak angkutan, volume pengangkutan dan jenis kargo;
  • kebutuhan staf;
  • biaya modal;
  • biaya operasi.
Seperti yang ditunjukkan oleh praktik, konveyor kabel sabuk, dalam banyak kasus, memakan biaya total terendah (biaya modal dan pengeluaran operasi untuk keseluruhan periode operasi) untuk pengangkutan barang curah dalam jarak jauh (di atas 10 km). Tabel di bawah memperlihatkan karakteristik teknis yang utama beberapa konveyor sabuk kabel terbesar di dunia. Sebagai perbandingan, ada juga data varian untuk menerapkan kompleks kargo SkyWay dengan kapasitas 65 juta ton per tahun (2,15 ton per hari), tidak terjangkau untuk sistem angkutan yang bersaing.
Kompleks angkutan kargo SkyWay adalah lini produk jenis jalan layang yang ditujukan untuk pengalihan kargo curah (volume angkutan hingga 250 juta ton/tahun). Jalan layang kompleks angkutan adalah struktur rangka spasial pratekan yang dipasang pada penopang di atas permukaan tanah. Tinggi penopang itu sedemikian rupa sehingga memungkinkan untuk melintas dengan bebas di atas gedung, jalan bebas hambatan, jalur listrik, jalur komunikasi dan jalur layanan lainnya yang ada.
Di jalan layang itu ada lintasan rel kabel operasional yang dirancang untuk kereta unicar yang panjang, mengangkut kargo curah dengan total kapasitas hingga 100 ribu ton. Untuk melayani kompleks angkutan kargo dan menjalankan operasi teknologi, ada kereta yang bertugas melakukan pemeliharaan, berpergian di sepanjang jalur terpisah, dikombinasikan dengan lintasan yang beroperasi.
Penggunaan teknologi rel kabel dan pemilihan parameter rancangan yang optimal memungkinkan para insinyur SkyWay Technologies Co. untuk mengurangi hambatan spesifik terhadap pergerakan rolling stock kargo dan mencapai nilai konsumsi energi spesifik pada Cen hingga ke tingkat 0,023 kW×h/t×km (memperhitungkan sedikit tanjakan pada rute hingga 3%). Hal ini juga memungkinkan untuk mengurangi biaya pengangkutan hingga 0,6 sen/t×km, yang 4-5 kali lebih murah dibandingkan dengan sistem angkutan alternatif dan 8-12 kali lebih murah dibandingkan dengan angkutan kereta api.
Selain itu, terdapat potensi yang besar dalam pengoperasian kompleks di dataran tinggi. Misalnya, jika angkutan berangkat dari daerah pegunungan menuju daerah pantai atau menuju ke wilayah yang lebih rendah daripada lokasi penambangan, pada jarak tempuh 500 km yang cukup adalah perbedaan ketinggian total 1.500 meter agar kompleks itu tidak mengkonsumsi listrik sama sekali untuk mengangkut bijih. Dengan menggunakan energi berpotensi regenerasi kargo yang turun dari pegunungan, kompleks angkutan kargo SkyWay akan dapat eksis sepenuhnya secara otonom, yang sangat penting bagi daerah yang belum berkembang di planet ini. Total biaya pengangkutan dengan sistem semacam itu akan lebih rendah  dibandingkan dengan sistem yang sama untuk medan datar karena kurangnya biaya listrik. Struktur angkutan kompleks dapat digunakan untuk menyelaraskan jalur listrik bertegangan tinggi, panel surya, jalur komunikasi, untuk mengatur pembangkit tenaga angin pada penopang.
Aspek penting adalah kurangnya masalah lingkungan yang muncul akibat konstruksi dan pengoperasian kompleks kargo Skyway. Misalnya, saat membangun tanggul kereta api, hidrologi alami daerah tersebut berubah, karena pada kenyataannya tanggul itu menjadi bendungan bertekanan rendah, yang bertindak sebagai DAS (daerah aliran sungai) buatan. Masalah yang signifikan adalah persimpangan kereta api rute migrasi hewan yang sedang sekarat dalam jumlah besar di bawah roda lokomotif. Pengolahan lahan pertanian yang subur tidak dimanfaatkan untuk konstruksi jaringan perkeretaapian.
Sistem angkutan Cargo SkyWay tidak mengalami masalah seperti itu: jembatan pengangkut terletak pada ketinggian 5-8 meter di atas permukaan tanah, penopangnya dipasang di setiap 40-50 meter dan luas lahan yang dialokasikan untuk satu penopang menengah, tidak melebihi 2 meter persegi. Dengan demikian, 1 kilometer rute memerlukan penarikan tidak melebihi 100 meter persegi tanah dengan memperhitungkan penopang jangkar (yang menempati hingga 50 m2/km). Perakitan jalan layang pengangkut menyiratkan teknologi berawak minimal; bongkar muat rolling stock dilakukan tanpa henti; lintasannya dari segala jenis cuaca dan memiliki daya tahan yang lama karena beban yang kecil pada poros roda dan jalan layang. Solusi teknis dan teknologis ini telah diuji di bagian lintasan exeperimen di kota Ozyory, Moskow.
Kurangnya masalah lingkungan hidup selama masa konstruksi sistem angkutan merupakan keunggulan yang signifikan, karena tindakan pelestarian alam (dan dana untuk pelaksanaan) dalam hal ini minimal. Misalnya, biaya proyek awal pipa gas di Alaska (AS) sebesar USD600 juta, namun setelah adanya protes dari organisasi masyarakat dan lingkungan hidup, konstruksinya diblokir. Kemudian, setelah pelaksanaan semua tindakan pelestarian alam, yang sangat mahal dalam kondisi permafrost, pipa itu dibangun, tetapi biayanya meningkat menjadi USD5 milyar, dengan kata lain 8 kali lipat lebih mahal. Ada beberapa kasus yang diketahui ketika proyek pertambangan besar telah ditutup sejak konstruksi perkeratapian menuju pelabuhan tidak lolos pemeriksaan pakar ekologi.
Angkutan kargo SkyWay merupakan terobosan di bidang pengangkutan kargo curah; angkutan ini memberi kesempatan untuk mengembangkan simpanan semacam itu, yang tidak ekonomis atau tidak mungkin dikembangkan dengan menggunakan model angkutan konvensional: di wilayah pegunungan, zona pelestarian alam, tundra dan hutan.
Teknologi SkyWay memungkinkan angkutan bergerak di gradien hingga 40% dan ini berarti bahwa sistemnya fleksibel, jalan layang benar-benar mengulangi profil medan dan biaya struktur lintasan hanya meningkat 25-30% dibandingkan dengan pilihan untuk medan datar. Biaya kompleks angkutan SkyWay bergantung pada banyak faktor: volume lalu lintas, negara pelaksana, kondisi medan, alam, cuaca, dan lainnya. Biaya rata-rata rolling stock, jalan layang, terminal, dan infrastruktur, yang mengacu pada 1 km panjang rute, sama dengan: untuk medan datar – mulai dari USD1,5 juta/km, untuk medan kasar – mulai dari USD2 juta/km, untuk wilayah pegunungan – mulai dari USD2.5 juta/km. Sebagai perbandingan: untuk kondisi di daerah Australia, satu lintasan kereta api kargo untuk pelanggan sebesar USD5 juta/km.
Dengan kehadiran teknologi SkyWay, penambangan bijih di banyak daerah pegunungan dapat memberikan keuntungan. Bahkan dalam kondisi ideal bagi sistem angkutan yang sudah ada, kompleks angkutan kargo memerlukan biaya operasi 4-5 kali lebih rendah pada kapasitas produktif yang sama, yang akan memungkinkan untuk menghemat ratusan juta dan bahkan milyaran dolar setahun*. Untuk kondisi pegunungan, sistem angkutan kargo SkyWay akan meningkatkan keuntungan secara siginifikan dibandingkan dengan konveyor kabel sabuk konvensional, belum lagi angkutan kereta api konvensional, yang dalam kondisi seperti ini tidak tahan terhadap saingan apapun. Misalnya, gradien longitudinal yang diizinkan sebesar 0,9%, membuat pekerja lintasan kereta api untuk melewati pegunungan dan membangun terowongan, jembatan, dan viaduk dengan bentang yang sangat besar, dirancang untuk muatan raksasa. Ini meningkatkan biaya konstruksi perkeretaapian di wilayah pegunungan setidaknya 2,5 kali lipat dan seringkali pengembangan ladang ranjau tidak menguntungkan. Dalam hal harga pesimis, penambangan bijih di wilayah pegunungan menjadi tidak menguntungkan jika menggunakan angkutan kereta api, sedangkan dengan menggunakan teknologi SkyWay, keuntungan tetap berada pada tingkat yang lebih tinggi. Fitur ini menyediakan, bagi sebuah perusahaan, yang menggunakan teknologi angkutan SkyWay, tidak hanya kemungkinan untuk berkembang, menyulitkan orang lain, tetapi juga menggunakan “senjata ekonomi” ini untuk bertarung dengan pesaing, mencapai monopolisasi industri secara lengkap dalam beberapa aspek.
Sumber dari http://skywayindonesia.com/id/tech/cargo-transport